PERILAKU DAN INTERAKSI SOSIAL WARGA KAMPUNG IDIOT DI DESA SIDOHARJO DAN KREBET KECEMATAN JAMBON KABUPATEN JAMBON KABUPATEN PONOROGO (STUDI) FENOMENOLOGI MASYARAKAT RETARDASI MENTAL) 

Penyusun : Dr. Muhammad Hanif, MM, M.Pd
                       Dahlia Novarianing A., S.Psi,M.Si

Tahun       : Nopember 2014

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mendeskripsikan kondisi dan perilaku warga retardasi mental, perilaku sosial masyarakat terhadap warga retardasi mental, dan interaksi sosial diantara warga masyarakat dan dengan warga retardasi mental di kampong idiot Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan grounded theory. Waktu penelitian selama dua tahun. Subjek penelitianya yaitu warga masyarakat termasuk warga retadasi mental dan penentuan informanya dengan teknik purposive sampling. Data yang digunakan bersumber dari primer dan skunder. Sedangkan teknik pengambilan datanya dengan observasi, wawancara, dan pecatatan dokumen. Data yang diperoleh di analisis dengan teknik coding model Strauss dam Corbin.

Dari penelitian yang dilakukan dapat disampaikan bahwa perilaku warga retadasi mental di Desa Sidoharjo dan Krebet mengalami hendaya dan maladaptif. Kondisi meraka dapat dikatagorikan ke dalam debil, imbesil, dan idiot. Faktor-faktor yang menyebabkan banyak warga masyarakat mengalai tetardasi mental yaitu (a) gizi buruk, (b) tidak adanya sarana kesehatan yang memadai dan terjangkau, (c) kadar air tanah mengandung zat besi yang tinggi, berkapur, dan kurang yodium, dan (d) kepercayaan adanya kutukan.

Perilaku social masyarakat terhadap warga retardasi mental mencerminkan perilaku sosial menerima. Perilaku sosial tersebut dipredisposisi oleh sikap positif terhadap warga retardasi mental dan diintesikan ke dalam berbagai tindakan: (a) tidak mengucilkan dan mengizinkan bergaul, (b) member bantuan pangan, sandang, papan, dan kerohanian, (c) mengajari membuat barang-barang rumah tangga dan pertanian, serta memelihara ternak walaupun dalam taraf terbatas dan tidak semua terporgram, (d) melibatkan dalam berbagai pekerjaan dan memberinya upah, dan (e) melakukan upacara tolak bala. Sehingga warga retardasi mental dapat menjalankan aktivitas tingakh laku, keluarga, dan sosial walaupun masih tahap terbatas dan sedehana. Aktor dalam berbagai perilaku social tersebut yaitu tokok masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda. Adapun faktor-faktor yang melarbelakangi, yaitu (a) keyakinan bahwa anak adalah titipan Tuhan, (b)  pemahaman tentang retadasi mental, (c) membudayanya adat gotong royong, (d) empati dan kemauan yang kuat untuk tetap bersama, (e) pendapatan yang kian meningkat dan kepuasan emosiaonal bila dapat membantu warga retadasi mental.

Interaksi sosial yang terjadi mengalami peribahan dan kini bersiafat asosiatif. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh intensifnya komunikasi dan kontak diantara warga masyarakat. Interaksi social ini menghasilkan nilai-nilai sosial, moral dan norma, sehingga keberadaan warga retadasi mental dianggap sebagai sesuatu yang wajar.