POTENSI UMBI BENGKUANG (Pachyrhizus erosus) SEBAGAI ESTROGEN ALAMI PADA TIKUS PUTIH BETINA 

Berbagai jenis plasma nuftah sebagai tanaman obat merupakan kekayaan sumber daya alam di Indonesia memberikan konstribusi sangat besar dalam bidang kesehatan. Masyarakat telah lama mengenal dan memanfaatkan tanaman berkasiat obat sebagai salah satu upaya mengatasi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman berkasiat obat merupaakn warisan budaya bangsa secara turun temurun.

Pengggunaan preparat hormone estrogen di masyarakat semakin meningkat sebagai pencegahan dan pengobatan penyakit. Penggunaan senyawa estrogen sintetis dalam waktu lama sering memberikan efek negative, sehingga diperlukan alternative dalam alam sebagai pengganti hormone estrogen.

Bengkuang (Pachyrhizus erosus) sebagai salah satu tanaman tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Umbi bengkuang mengandung senyawa isoflavon dengan straktur kimia mirip hormone estrogen (17 β estradiol). Tujuan jangka panjang bengkuang untuk terapi estrogen (Estrogen Replacement Therapy) sebagai salah satu upaya mengapresiasi tanaman berkhasiat obat di Indonesia melalui pengembangan buku saintifikasi jamu. Tujuan khusus penelitian ini adalah menganalisis potensi umbi bengkuang sebagai estrogen alami pada wanita.

Metode penelitian dengan pendekatan eksperimen, menggunakan hewan coba 24 ekor ekor tikus betina umur hewan coba tikus putih betina jenis Sparague Dawley berjumlah 24 ekor, umur 4, 5-5 bulan, bobot badan 160-200g. Hewan coba dibagi sebagai control, kelompok kedua pemberian senyawa murni daidzein dan kelompok ketiga pemberian air perasan umbi bengkuang. Perlakuan sonde langsung dalam lambung tikus selama 24 hari. Hari pertama setelah pemberikan dilakukan analisis kadar daizein pada darah, urin , dan fases dengan metode HPLC dan GC-MC. Pemebedahan dan pengambilan organ ovarium, uterus, femur dan serum darah dilakukan pada hari ke-25. Pembuatan preparat histologist dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Pemerikasaan estradiol pada serum darah dengan metode ELISA. Variabel terikat adlah rerata jumlah folikel ovarium, ketebalan jaringan endometrium uterus, rerata jumlah osteoblas dan osteoklas femur, serta kadar estradiol serum darah.

Analisis HPLC menunjukkan kadar daidzein umbi bengkuang adlah 108,831 mg/100g, analisis GC-MS umbi bengkuang terdapat 51 senyawa , dan tidak terdapat 17 β estradiol. Analisi GC-MS darah terdapaat empat senyawa berbeda pada perlakuan air perasan umbi bengkuang yaitu choline, fructose, cystein, dan quercetin. Kadar daidzein di darah, urin dan fases pada pemberian air person umbi bengkuang lebih rendah dari pada perlakuan daidzein murni. Analisis one way Anaova menunjukkaan pemberian air person umbi bengkuang berpengaruh signifikan terhadap lebar miometrium dan endometrium, jumlah osteblas dan osteklas, dan kadar 17 β estradiol,

Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahawa umbi bengkuan berpotensi sebagai estrogen alami, yang dimungkinkan dapat menggantikan estrogen sintetis. Saran penelitian perlu adanya uji coba kepada relawan sebagai uji klinis , karena penelitian yang dilakukan masih terbatas pada uji preklinis terhadap hewan coba.